Pages

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 06 Juni 2011

Olahraga dapat Pahala?

Gotong Royong pengecoran lantai 2 Masjid Ar Roudhoh
Labruk Kidul-Sabtu malam dapat undangan untuk esok harinya. Minggu jam 07.00 berangkat ketempat acara tersebut diadakan, setelah sebelumnya sarapan dan tentu saja mandi dulu (biar gak bau2 amat). Setelah sampai di TKP yang kebetulan masih beberapa orang yang hadir, kusempatkan duduk-duduk sebentar (terus terang aku masih belum tahu apa yang aku kerjakan).
Selang beberapa saat kemudian sebuah mobil pengangkut bahan bangunan datang dengan mengangkut puluhan sak semen dan tanpa dikomando kami membantu menurunkannya, sampai titik ini baru aku tahu ternyata undangan pada sabtu malam kemarin adalah undangan untuk gotong royong pengecoran masjid yang berada di desaku (soalnya pada saat diundang/diberitahu aku sedang tidak ada dirumah).
Setengah jam kemudian beberapa orang/warga yang lain datang ke masjid tersebut, tentunya dengan niatan yang sama yaitu gotong-royong mengecor masjid yang "terbesar" di Kecamatan Sumbersuko ini.
Bagian pengangkut pasir
Seperti sudah dikomando sebelumnya, kami menempati posisi masing-masing, ada yang dibagian mengangkut pasir, batu kecil, bagian pencampur/pengaduk semen, dan ada bagian yang mengangkut adonan. Kebetulan bagian yang di cor adalah di lantai 2, jadi memerlukan banyak orang untuk sambung-menyambung mengangkut adonan tadi sampai lantai atas. Dengan penuh semangat kami mengangkat satu demi satu timba yang berisi campuran semen, batu, dan pasir ini untuk mengecor lantai ke-2 masjid yang mulai pembangunannya sekitar tahun 2005 yang sampai sekarang masih belum rampung pembuatannya ini.
Pengecoran Lantai Atas
Sekitar jam 09.30 kami beristirahat sebentar untuk sekedar menikmati minum dan makan yang disumbangkan oleh warga yang lain yang tidak ikut dalam gotong royong tersebut, setelah beberapa menit kamipun melanjutkan kembali sampai 11.30 istirahat untuk melaksanakan sholat dzuhur. Gotong royong tersebut dilanjutkan kembali sekitar pukul 13.00 dan selesai menutup seluruh lantai sekitar pukul 14.30.
Dengan adanya acara tersebut saya khususnya mendapat manfaat diantaranya yaitu:
  1. Itung-itung olahraga, pada tiap harinya jarang bergerak dan tidak pernah mengeluarkan keringat karena kerjanya lebih banyak duduk;
  2. Tercipta kerukunan, dengan adanya gotong royong tersebut timbul saling bantu membantu antara satu dengan yang lain. betapa indahnya kalau tidak hanya dalam pembangunan masjid saja tetapi dalam hal membangun negeri ini semua elemen masyarakat saling bekerja sama untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera.
  3. Bagian Pengecoran
  4. Bernilai ibadah, mudah-mudahan apa yang kami lakukan semata-mata ikhlas karena Allah dan mengharapkan Ridho dariNya, seperti sabda Rasulullah saw: "Barang siapa yang membangun sebuah masjid karena mengharapkan keridhaan Allah SWT, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga". (H.R Bukhari dan Muslim).
Tak berlebihan kiranya  jika saya menganggap selain mendapat manfaat di dunia juga bernilai ibadah untuk bekal kita menuju akhirat kelak  "Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak...." (Q.S. 57 : 11), amin..


Jumat, 03 Juni 2011

Nazaruddin : Semua Tiba-tiba Hilang

Curhat "M. Nazaruddin" mantan Bendahara Parpol tertentu

Salah satu bait penggalan "curhat" "sang mantan bendahara salah satu parpol di Indonesia" mengatakan, "dulu ketika diatas, anda banyak teman, ketika di bawah, semua tiba-tiba menghilang" mengingatkan kita betapa pentingnya memilih teman sejati.

Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kecenderungan untuk berteman, tidak bisa kita hidup sendiri. Islam menganjurkan untuk menjalin pertemanan dengan baik. Pertemanan yang di dalamnya saling menasihati untuk menetapi kebenaran dan kesabaran (QS Al-'Ashr [103]: 3).

Islam juga mengingatkan penganutnya agar berhati-hati dalam memilih teman. Sayidina Ali RA pernah berkata, "Kalau kalian ingin melihat kepribadian seseorang, lihatlah bagaimana teman-temannya." Rasulullah juga mengingatkan, "Seseorang itu dipengaruhi oleh agama teman-temannya. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dengan siapa kita bergaul."

Ali Zaenal Abidin berkata kepada putranya, "Wahai anakku, berhati-hatilah terhadap lima kelompok. Jangan berteman dan jangan berbicara kepada mereka, serta jangan menjadikannya teman dalam perjalanan." Lalu putranya bertanya tentang lima kelompok itu.

Sang ayah pun menjawab, "Pertama, berhati-hatilah dan jangan bergaul dengan orang yang berkata dusta. Dia bagaikan bayangan yang mendekatkan engkau dari sesuatu yang jauh dan menjauhkan engkau dari hal yang dekat. Kedua, berhati-hatilah dan jangan bergaul dengan orang yang fasik, sebab dia akan menjualmu seharga butiran atau lebih rendah dari itu."

"Ketiga, berhati-hatilah engkau dan jangan bergaul dengan orang kikir, sebab dia akan menjauhkanmu dari hartanya ketika engkau memerlukannya. Keempat, berhati-hatilah engkau dan jangan bergaul dengan orang yang dungu, sebab dia ingin mendapat manfaat darimu, tetapi mencelakakanmu. Kelima, berhati-hatilah dan jangan bergaul dengan orang yang tidak memperhatikan kerabatnya, sebab aku mendapatkannya sebagai orang yang dilaknat Alquran dalam tiga tempat (ayat)."

Nasihat itu menunjukkan bahwa pertemanan sejati dapat dijalin dengan kejujuran, ketaatan beragama, kedermawanan, kemauan belajar, dan silaturahim. Kejujuran dapat menunjukkan dan menerima kebenaran. Kedermawanan dapat mendekatkan hubungan antarmanusia. Kemauan belajar dapat membuat orang saling memahami dan menghargai. Sedangkan, silaturahim dapat menjalin persaudaraan, umur panjang, dan kelimpahan rezeki.

Dalam pandangan Islam, teman juga dapat berupa perilaku atau amal. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan mencari dan membinanya. Iman dan amal saleh dalam pandangan Islam dapat menolong dan menyelamatkan seseorang dari kehinaan.

Sayidina Ali berkata, "Sesungguhnya, ada tiga jenis teman bagi seorang Muslim. Pertama, teman yang berkata, 'Aku bersamamu di kala engkau hidup atau pun mati,' dan inilah amalnya. Kedua, teman yang berkata, 'Aku bersamamu hanya sampai kuburanmu, kemudian meninggalkanmu,' Inilah anaknya."

"Ketiga, teman yang berkata, 'Aku bersamamu hingga engkau mati,' inilah kekayaannya yang akan menjadi milik ahli waris ketika dia meninggal." Amal salehlah yang dapat menolong seseorang tatkala menghadapi pengadilan Tuhan dan tatkala tiada seorang pun sebagai penolong." Oleh karena itu, setiap Muslim perlu memperhatikan etika pertemanan dan berusaha menjadi teman yang sejati.
 

Blogroll

About

Browser tidak support