Pages

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 21 Februari 2012

Apa yang Kita Pelajari dari #Semut?

Di antara ucapan paling menakjubkan ialah kata-kata seekor semut ketika bala tentara Sulaiman yang agung merambah negerinya. Di Nusantara, 'kabar burung' tak dipercaya. Tapi Quran menyebut Hud-hud; burung yang membawa 'berita meyakinkan', ia lebih jujur dari insan. Bala tentara jin, insan, burung, dan hewan tertata rapi dalam barisan {QS 27: 17}, lalu ayat ke-18 mengabadikan ucap si semut :"Wahai para semut; masuklah ke dalam rumah tinggal kalian; agar Sulaiman dan pasukannya tak menginjak kalian sedang mereka tak menyadari." 

Sungguh berlimpah pelajaran dari kata-kata sang semut ini.
Pertama; ucapan indah ini ditujukan untuk menyelamatkan kaumnya
Ucapan yang bertujuan menyelamatkan kehidupan sangat mahal nilainya. Mari kita berlatih untuk bicara hal sedemikian. Seorang muslim bicara hal yang baik; benar isinya, indah caranya, tepat waktunya, bermanfaat, dan berpahala. Atau diam. Atau setidaknya; selamatkan sesama dari gangguan tangan dan lisan kita. Mari bicara mulia, menjaga jiwa, menyelamatkan hidup

Pelajaran ke-2; Yang hendak diselamatkan semut adalah sesama semut; yang andaipun mati, tiada kan mempertanggungjawabkan 'amal.
Kalimat semut menyelamatkan semut ini dimuliakan Al Quran. Maka betapa lebih mulia lagi kalimat manusia untuk selamatkan manusia. Sebab hidup semut hanya soal hajat; sedang hidup manusia adalah soal amanah ibadah yang kan dipertanggungjawabkan dengan rinci

Pelajaran ke-3; ucapan semut ditujukan untuk menyelamatkan hidup kawan-kawannya di dunia. Ini mulia dan Allah mengabadikannya.
Maka alangkah lebih mulia lagi tiap ucapan manusia yang ditujukan untuk menyelamatkan sesama di kehidupan akhiratnya. Inilah dakwah; ucapan yang merayu-rayu sesama untuk ber-ihsan dalam 'amal dan ber-ikhlas dalam hati; mengesakan Allah

Pelajaran ke-4; semut pemimpin itu mengatakan, "..Masuklah kalian ke dalam rumah tinggal (maskanah~>masakin) kalian.." Berkata dr_almuqbil; Hatta semut-pun memiliki tempat berdiam dan berlindung bagi yang dipimpinnya. Maka hendaklah demikian tiap insan berusaha agar mampu menyediakan tempat berteduh dan bernaung bagi mereka yang ada dalam tanggungjawabnya. Sebab bagi insan beriman; rumah bukan cuma tempat tinggal; ia juga tempat menyembah Allah, membina keluarga, dan menanamkan tauhid Firman Allah; "Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, 'Ambillah olehmu berdua beberapa rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu. Jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yang beriman." {QS 10: 87}. Semut berlindung bagi hidup di bumi; insan mengguna(kan) rumahnya bagi hayat (hidup di) dunia-akhirat.

Pelajaran ke-5 dari ucapan semut ialah prasangka baik. Simaklah kalimat, "..Agar Sulaiman dan pasukannya tak menginjak kalian. sedang MEREKA TAK MENYADARINYA" {QS 27: 18}. Alangkah mulia si semut yang berprasangka baik bahwa jikapun mereka terinjak pastilah itu tanpa sengaja; sebab Sulaiman dan bala tentaranya tak menyadari kehadiran para semut di bawah kaki mereka. Betapa jelita prasangka baik pada sesama hamba Allah; sebab buruk sangka pada saudara hakikatnya adalah menuduh diri sendiri.Yakni; membayangkan bahwa seandainya kita berada di posisi beliau; kita akan melakukan hal buruk yang kita tuduhkan

 

Blogroll

About

Browser tidak support